Meracik Ilmu dari Biji ke Industri: Kuliah Pakar Kopi–Kakao dan Sosialisasi CoE Cokelat Batch 4 Hidupkan Semangat Inovasi Mahasiswa

Malang, 26 November 2025 — Aula BAU UMM pada Rabu pagi itu dipenuhi energi mahasiswa angkatan 2023 yang hadir mengikuti kegiatan “Kuliah Pakar Kopi–Kakao dan Sosialisasi Program CoE Cokelat Batch 4”. Suasana hangat tercipta sejak awal, seolah mengingatkan bahwa dua komoditas utama Indonesia—kopi dan kakao—tidak hanya menawarkan kenikmatan rasa, tetapi juga peluang inovasi yang luas di era modern. Acara ini menghadirkan tiga narasumber yang mewakili dunia industri dan akademik. Mereka berbagi kisah, pengalaman, dan pengetahuan yang mengalir seperti proses panjang pengolahan biji kopi dan kakao hingga menjadi produk bernilai jual tinggi. Pemateri pertama, Alif Wahyu Dewa Ananta Mulyono, S.T., CEO Cokelat Mojopahit, membawa peserta pada perjalanan epik dari sebuah biji kakao hingga menjadi produk cokelat yang dikenal secara regional. Ia bercerita tentang proses membangun usaha dan bagaimana ia menjadikan inovasi sebagai ruh utama perusahaannya. “Industri kakao itu tidak sekadar soal rasa. Ini tentang cerita, kualitas, dan keberanian untuk terus berinovasi,” ungkapnya. Alif menekankan bahwa kemampuan memahami bahan baku, teknologi proses, serta kedekatan dengan petani merupakan fondasi utama untuk menghasilkan produk yang lebih berdaya saing di pasar modern. Sesi berikutnya menghadirkan Ila Dwi Damayanti, S.M., Owner PT Jee Coffee Indonesia, yang membawa suasana berbeda dengan kisah perjalanannya dalam industri kopi. Ila menyampaikan bagaimana kopi telah berkembang menjadi komoditas gaya hidup dengan nilai ekonomi tinggi. Ia berbagi tentang pentingnya memahami karakter biji kopi, pengolahan pascapanen, serta inovasi dalam penyajian agar mampu bersaing di pasar. “Kopi bukan hanya minuman. Ia adalah identitas, seni, dan bisnis yang bertemu dalam satu cangkir. Jika kalian memahami bijinya, kalian akan mampu menciptakan nilai tambahnya,” jelasnya. Para mahasiswa terlihat antusias ketika Ila membahas tren kopi masa kini, termasuk produk kopi siap minum dan potensi pasar global. Sebagai pemateri ketiga, Afifa Husna, S.TP., M.TP., Dosen Teknologi Pangan UMM, melengkapi rangkaian sesi dengan menyampaikan sosialisasi Program CoE Cokelat Batch 4. Afifa menjelaskan bahwa program ini merupakan wadah unggulan UMM dalam mencetak mahasiswa yang memiliki kompetensi khusus di bidang kakao, mulai dari pengolahan, pengembangan produk, hingga inovasi bisnis berbasis cokelat. Ia memaparkan alur program, peluang praktik langsung, hingga manfaat yang akan diperoleh mahasiswa. “CoE Cokelat bukan hanya pelatihan. Ini adalah jembatan antara teori, praktik, dan kebutuhan industri. Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami ilmu, tetapi mampu mengaplikasikannya dalam bentuk produk nyata,” ungkapnya. Kegiatan ini tidak hanya membuat mahasiswa memahami dinamika industri kopi dan kakao, tetapi juga membuka mata mereka bahwa keduanya memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui inovasi. Diskusi interaktif antara mahasiswa dan pemateri menunjukkan tingginya minat mereka terhadap peluang riset, kewirausahaan, hingga prospek karier di bidang minuman dan cokelat fungsional. Melalui rangkaian Kuliah Pakar dan sosialisasi ini, Program Studi Teknologi Pangan UMM berharap mahasiswa angkatan 2023 semakin siap bersaing di dunia industri pangan yang terus berevolusi. Dengan bekal pengetahuan, inspirasi, dan kesempatan melalui CoE Cokelat Batch 4, mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi inovator yang meracik potensi lokal menjadi produk bernilai global.

Dari Kampus ke Dunia Kerja: Kisah Perjalanan Alumni Warnai Kuliah Perdana Teknologi Pangan UMM 2025

Malang, 22 Oktober 2025 — Suasana Aula Teknik GKB 3 UMM pagi itu dipenuhi antusiasme mahasiswa baru angkatan 2025 yang mengikuti Kuliah Perdana Program Studi Teknologi Pangan UMM. Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk mengenalkan mahasiswa pada dunia akademik sekaligus memberikan gambaran nyata tentang masa depan karier di bidang pangan. Tahun ini, Kuliah Perdana menghadirkan tiga alumni lintas generasi yang kini berkarier di pemerintahan, akademik, dan industri. Ketiganya tidak hanya berbagi kisah perjalanan masing-masing, tetapi juga menekankan pentingnya penguasaan sains dasar sebagai fondasi menuju profesionalitas di masa depan. Pemateri pertama, Fitri Hasanah, S.TP., M.Si., alumni angkatan 2001 yang kini bekerja di Kementerian Perindustrian, mengawali pemaparannya dengan cerita bagaimana ia dulu duduk sebagai mahasiswa baru yang masih mencari arah. Ia menekankan bahwa memahami sains dasar seperti kimia, mikrobiologi, dan teknologi proses adalah bekal penting yang membantunya bekerja dalam penyusunan regulasi industri pangan nasional. “Jangan pernah remehkan mata kuliah sains dasar. Regulasi yang saya buat setiap hari lahir dari analisis ilmiah. Kalian harus paham prosesnya jika ingin berkontribusi pada kebijakan pangan nasional,” pesannya. Fitri juga menggambarkan bahwa bekerja di pemerintahan menuntut ketelitian, kemampuan berpikir analitis, dan kemauan untuk terus belajar menyesuaikan dinamika industri. Sesi kedua menghadirkan Ni’matus Sholihah, S.TP., M.T.P., alumni 2013 yang kini menjadi Dosen di Institut Teknologi Kalimantan. Dengan gaya yang hangat, ia menjelaskan bahwa karier akademik tidak dapat dilepaskan dari sains dasar. Ia mengibaratkan sains dasar sebagai bahasa ilmu yang memungkinkan seseorang membaca dan menciptakan pengetahuan baru. “Sains dasar adalah bahasa ilmu. Jika kalian menguasainya, riset akan terbuka lebar dan kalian dapat menciptakan pengetahuan baru,” ungkapnya. Ni’matus juga berbagi perjalanan kariernya mulai dari studi lanjut, pengalaman penelitian, hingga bagaimana membangun kompetensi untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan tinggi. Pemateri terakhir, Eris Endraswari, S.TP., alumni angkatan 2018 yang bekerja sebagai Junior Manager Product Development di PT Pesta Pora Abadi, membawa perspektif berbeda dari dunia industri. Ia menuturkan bahwa setiap produk pangan yang berakhir di rak supermarket bermula dari pemahaman mendalam tentang reaksi kimia, karakteristik bahan, dan teknik pengolahan. “Di industri, kreativitas itu penting. Namun kreativitas tanpa dasar sains hanya akan menjadi tebakan. Inovasi yang kuat lahir dari pemahaman ilmiah dan keberanian menguji ide,” ujarnya. Eris juga membagikan proses meniti karier di industri yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kemampuan bekerja dalam tim multidisiplin. Kuliah Perdana ini menjadi ruang yang menghubungkan pengalaman nyata para alumni dengan harapan mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan akademiknya. Ketiga pemateri secara konsisten menekankan bahwa sains dasar merupakan fondasi yang tidak boleh diabaikan, karena kemampuan memahami konsep ilmiah akan sangat menentukan kesiapan mahasiswa untuk memasuki beragam peluang karier di bidang pangan. Antusiasme mahasiswa terlihat dari berbagai pertanyaan mengenai strategi belajar, peluang karier, hingga langkah mempersiapkan diri sejak semester awal. Melalui kegiatan ini, Program Studi Teknologi Pangan UMM berharap mahasiswa angkatan 2025 dapat melangkah dengan keyakinan yang lebih kuat, memahami pentingnya membangun dasar ilmu yang kokoh, serta lebih siap menapaki perjalanan akademik dan profesional di masa depan.

Training Post-Harvest Cokelat di Jembrana Bali: Kolaborasi UMM, vLiruos, dan Perkebunan Cokelat di Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang

Sumbermanjing Wetan, 16 Oktober 2025 — Kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), vLiruos, dan para petani kakao di Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, berhasil menyelenggarakan kegiatan Training Post-Harvest Cokelat yang bertujuan meningkatkan kualitas pengolahan pascapanen kakao di tingkat petani. Kegiatan ini diikuti oleh para petani kakao yang berasal dari wilayah Sumbermanjing Wetan dan sekitarnya. Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam proses pascapanen kakao, terutama pada tahapan fermentasi, pengeringan, dan pengolahan biji kakao untuk menghasilkan kualitas cokelat premium yang memenuhi standar industri. Pelatihan menghadirkan narasumber utama, Bapak Hendy Firmanto, peneliti dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka/ICCRI) Jember. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya pengendalian mutu pada tahap pascapanen untuk meningkatkan nilai jual kakao dan daya saing produk cokelat nasional. Materi yang disampaikan meliputi: Teknik fermentasi biji kakao yang benar Faktor-faktor penentu cita rasa cokelat Pengeringan biji kakao yang higienis dan efisien Pengendalian mutu pascapanen untuk kebutuhan industri Para peserta terlihat sangat antusias mengikuti sesi materi maupun praktik lapangan, serta aktif bertanya mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam proses pengolahan di tingkat kebun. Kegiatan ini turut didampingi oleh Dahlia Elianarni, M.Sc, Dosen Teknologi Pangan dari Universitas Muhammadiyah Malang. Beliau memberikan pendampingan teknis serta menjembatani diskusi antara petani dan pihak akademisi mengenai potensi pengembangan produk turunan kakao serta peluang peningkatan nilai tambah melalui inovasi pengolahan. Keikutsertaan UMM dalam kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan industri berbasis komoditas lokal. Kolaborasi antara UMM, vLiruos, dan para pelaku perkebunan cokelat di Sumbermanjing Wetan ini diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi petani, terutama dalam: meningkatkan kualitas hasil panen, memperluas akses pasar kakao berkualitas, serta mendorong inovasi produk berbasis kakao. Kegiatan ini juga menjadi langkah awal menuju penguatan kemitraan antara akademisi, lembaga riset, dan komunitas petani dalam mewujudkan industri cokelat Indonesia yang lebih berdaya saing.